Header Ads

Maulid Nabi dari Segi Aspek Tradisi dan Agama

Maulid Nabi dari Segi Aspek Tradisi dan Agama - Maulid Nabi memang sudah menjadi tradisi masyarakat indonesia untuk memperingati lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa salam dengan berbagai cara dan setiap daerah memiliki caranya masing masing.


Maulud atau sering disebut dengan Maulid Nabi atau “mawlid an-nabi” dalam bahasa Arab artinya hari lahir, merupakan peringatan hari lahirnya Nabi besar Muhamad SAW. Di Indonesia sendiri, maulid nabi jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan pengaruh yang sangat besar kepada umat manusia, dengan memberikan contoh teladan dalam bidang agama maupun duniawi. Jadi, selama umat manuisa mengikuti sunnahnya maka mereka semua akan mendapatkan kebaikan di dunia dan kebaikan di hari akhirat kelak. Untuk itu, banyak umat muslim yang memperingati Maulid Nabi dengan harapan bisa lebih mencintai Nabi muhamad SAW.
Apakah kalian sudah tahu siapa orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi? Apa yang mereka lakukan? Untuk itu, mari kita simak sejarah singkat Maulid Nabi agar kalian lebih mengenal apa yang dimaksud Maulid Nabi yang sebenarnya.

Sejarah Singkat Maulid Nabi

Pada abad ke-7 Hijryah, seorang Raja bernama Muzhaffaruddin merayakan Maulid Nabi untuk pertama kalinya.Di dalam sebuah kitab Tarikh, Ibnu Katsir berkata :
“Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi Pada bulan Rabi’ul Awal.Dia merayakan secara besar besaran.Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil – semoga Allah merahmatinya.”(sumber : wikipedia.org)
Dalam peringatan tersebut, Sulttan Al-Muzhaffar mengundang seluruh ulama dan rakyatnya, baik ulama dalam bidang ilmu hadist, fikih, kalam, ulama usul, dan lain sebagainya. Sebelum Perayaan Maulid Nabi, dia telah mempersiapkan 3 hari sebelumya dengan menyembelih ribuan unta dan kambing sebagai hidangan para hadirin dalam rangka Maulid Nabi tersebut. Para ulama pada saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan al-Muzhaffar dan menggangap baik perayaan Maulid nabi untuk pertama kalinya.

Maulid Nabi dari Segi Tradisi

Setiap memasuki tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah, perayaan maulid nabi sudah menjadi tradisi yang melekat bagi umat muslim. Di indonesia sendiri, umumnya merayakan Maulid Nabi dengan berbagai cara seperti pembacaan Shalawat Nabi, Pembacaan Syair Barzanji dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, dalam budaya adat jawa pada bulan Rabiul Awal sering diadakan permainan Gamelan Saketan atau bahkan melakukan ritual memandikan benda benda pusaka seperti keris (kejawen).


Bukan hanya itu, ada pula yang merayakannya dengan karnaval dan pagelaran kesenian.pagelaran kesenian yang ditampilkan biasanya adalah Wayak Kulit ataupun Wayang Golek dari siang hari sampai malam hari.
Di belahan bumi lain, seperti Malaysia, Kanada, Rusia, Inggris, Pakistan, dan negara negara yang lainnya juga telah menjadi tradisi untuk merayakan Maulid nabi oleh umat Muslim yang ada di sana. Lain halnya dengan Negara Pakistan, umat muslim yang berada di Negara tersebut merayakan Maulid nabi dengan cara yang terbilang unik, tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, meriam ditembakan di pusat kota sebanyak 31 kali dengan maksud sebgai penghormatan kepada Kanjeng Nabi Muhamad SAW.

Maulid Nabi dari Segi Agama

Perayaan Maulid Nabi dari segi agama mengandung sebuah kontroversi yang tak berujung. Dalam realita sesungguhnya, kita tidak akan pernah menjumpai satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa pada saat Nabi Muhamad SAW ulang tahun melakukan sebuah perayaan khusus. Sahabat beliau pun tidak pernah mengadakan perayaan secara khusus ataupun ritual tertentu setiap tahunnya untuk merayakan hari lahirnya Kanjeng Nabi Muhamad SAW.


Oleh karena itu, tidak adanya anjuran dari beliau untuk merayakan Maulid Nabi apalagi di anggap sebagai ibadah formal. Semua orang pasti percaya bahwa yang paling mencintai Nabi Muhamad shallallahu ‘alahi wa salam adalah keluarganya dan sahabat sahabatnya. Namun tidak ada satupun yang merayakan atas kelahiran Nabi Besar Muhamad SAW.

Dari penjelasan di atas, orang orang yang memang mengenal, berpegang teguh atas sunahnya dan mencintai Nabi besar Muhamad SAW tidak ada yang merayakan Maulid Nabi. Untuk itu kita sebagai umat muslim,  mencintai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa salam tidak mengharuskan mengikuti Maulid Nabi, yang terpenting adalah menjalankan Sunahnya dan mencontoh apa yang dilakukan Nabi kita.
Untuk itu, marilah kita senantiasa melakukan apa yang dicontohkan Nabi kita, bukan hanya Maulid Nabi saja sebagai tanda cinta Anda kepada rasululah SAW, melainkan banyak sekali yang bisa kita lakukan seperti Bershalawat Nabi, melakukan shallat sunah, selalu menyebut namanya dalam setiap doa, melakukan apa yang dilakukan beliau dan lain sebagainya.

No comments

Powered by Blogger.